Beli mesin digital printing rekondisi atau bekas bisa jadi cara hemat untuk menambah kapasitas produksi. Tapi risikonya nyata: kalau salah pilih, biaya perbaikan dan downtime bisa malah bikin rugi. Di artikel ini saya jelaskan secara santai dan praktis apa yang perlu kamu perhatikan sebelum memutuskan membeli mesin bekas, supaya keputusanmu lebih aman dan terukur.
Mengapa orang pilih mesin rekondisi atau bekas
- Harga lebih murah dibanding mesin baru, kadang bisa setengah harga.
- Ketersediaan model kelas atas dengan budget terbatas mungkin kamu bisa pakai mesin yang fitur dan kualitasnya jauh lebih baik daripada mesin baru entry level.
- Waktu pengadaan lebih cepat kalau stok mesin baru inden, mesin bekas bisa langsung dipindah dan dipakai.
- Pilihan rekondisi resmi dari vendor yang memberi garansi pendek kadang tersedia, jadi risikonya lebih kecil.
Namun ada risiko: komponen aus, riwayat perawatan tidak jelas, dan ketersediaan spare part bisa jadi masalah. Karena itu cek detailnya sebelum bayar.

Checklist sebelum memutuskan beli
Berikut checklist terperinci yang harus kamu pakai saat inspeksi:
1. Pemeriksaan fisik
- Kondisi bodi: karat, retak, bekas perbaikan kasar.
- Panel kontrol dan layar: apakah touch screen berfungsi, ada pixel mati atau tombol aus.
- Kabel dan konektor: tidak boleh ada kabel terkelupas atau sambungan yang longgar.
- Sistem pendingin dan ventilasi: kipas bersih, tidak berdebu atau berisik.
2. Riwayat pemakaian dan perawatan
- Minta log maintenance atau catatan servis: kapan terakhir servis, komponen apa yang diganti.
- Tanyakan lama pemakaian harian dan jenis pekerjaan sebelumnya (misal cetak tekstil berat terus atau cetak poster biasa). Mesin yang dipakai 24 jam sehari cenderung lebih aus.
3. Cek komponen utama
- Print head / nozzle: jalankan nozzle test dan lihat apakah ada garis, missing nozzle, atau drop size tidak stabil.
- Pompa tinta, tabung, dan feed system: pastikan tidak ada kebocoran dan seal bagus.
- Sistem pemanas dan dryer (jika ada): heater dan conveyor harus berfungsi dan suhu stabil.
- Motor stepper/servo, belt, pulley: periksa adanya keausan atau backlash.
- UV lamp atau LED curing (jika printer UV): umur lampu dan intensitas.
- RIP software dan controller: versi, lisensi, kompatibilitas, apakah disertakan.
- Sensor dan encoder strip: bersih dan tidak ada scratch.
4. Test cetak
- Minta demo cetak langsung di lokasi, dengan file yang kamu bawa. Cetak beberapa file: foto dengan gradasi, solid block, teks kecil.
- Periksa warna: apakah konsisten, ada banding, atau ada streak.
- Uji kecepatan kerja pada mode standar dan mode kualitas tinggi.
- Lihat output pada bahan yang umum kamu pakai (kertas, vinyl, tekstil, dsb).
5. Cek spare part dan consumables
- Tanyakan kelengkapan spare part yang disertakan: print head cadangan, belt, nozzle caps, peristaltic pump, dsb.
- Pastikan suku cadang utama masih diproduksi atau tersedia di pasar sekunder. Jika print head sudah discontinued, biaya servis akan sangat tinggi.
- Hitung biaya consumables: tinta, cleaning kit, maintenance kit, wastetank.
6. Garansi dan after sales
- Seller resmi atau refurbisher biasanya menawarkan garansi terbatas. Pastikan ada jaminan minimal 1-3 bulan untuk komponen penting.
- Cek apakah ada teknisi lokal yang bisa service dan supply spare part. Dukungan lokal sangat penting.
7. Transportasi, instalasi, dan kalibrasi
- Mesin besar perlu rigging, fork lift, dan tenaga ahli. Pastikan biaya dan metode pemasangan jelas.
- Instalasi dan kalibrasi awal idealnya dilakukan oleh teknisi yang paham tipe mesin tersebut. Minta demonstrasi setelah instalasi.
Pertanyaan wajib ditanyakan ke penjual
- Berapa usia mesin dan jam operasional total?
- Ada catatan perbaikan atau komponen yang pernah diganti?
- Kenapa mesin dijual? (trade-in, upgrade, tutup usaha)
- Adakah garansi atau opsi refund jika mesin tidak sesuai?
- Bisa kirim video demo saat mesin berfungsi? Bisa tes cetak full color?
- Ada training operator yang disertakan?
Tanda bahaya (red flags)
- Penjual menolak demo mesin hidup atau hanya kasih foto.
- No maintenance log dan alasan penjual tidak jelas.
- Ada tanda pernah kebanjiran atau korsleting (bau terbakar, kabel meleleh).
- Spesifikasi tidak sesuai atau serial number mesin dimodifikasi.
Negosiasi harga dan nilai total kepemilikan
Harga mesin bekas bukan hanya soal harga beli. Hitung Total Cost of Ownership (TCO):
- Harga beli + biaya transport + instalasi + kalibrasi
- Biaya suku cadang cadangan dan tinta selama 1 tahun
- Biaya servis rutin dan downtime estimasi
- Nilai residual jika dijual lagi
Gunakan temuan inspeksi untuk negosiasi. Kalau perlu ganti print head dalam waktu dekat, mintalah diskon untuk menutup biaya itu.
Tips membeli dari sumber yang lebih aman
- Pilih penjual yang menyediakan history servis dan garansi.
- Jika membeli dari marketplace, pilih seller dengan reputasi dan review.
- Pertimbangkan purchase dari refurbisher resmi vendor atau dealer partner. Mereka sering memberi garansi pendek dan standarisasi rebuild.
- Kalau memungkinkan bawa teknisi atau operatormu saat inspeksi.
Penutup
Membeli mesin digital printing rekondisi bisa sangat menguntungkan jika dilakukan dengan hati-hati. Kunci utamanya adalah inspeksi menyeluruh, test cetak nyata, cek ketersediaan spare part, dan memperhitungkan total biaya kepemilikan. Jangan terburu-buru karena godaan harga murah; sedikit waktu ekstra untuk pengecekan bisa menghemat banyak uang nanti.
Semoga tips ini membantu kamu menemukan mesin bekas atau rekondisi yang andal dan menguntungkan.

